.: RISALAH ISLAM :.

Selasa, 01 Desember 2009

PIWULANG SEJATINING URIP

PADA SUATU KETIKA SESEORANG AKAN MENYADARI BAHWA RUMAH, MOBIL, PACAR, KELUARGA, ILMU PENGETAHUANNYA, KEKAYAANNYA BAHKAN DIRINYA SENDIRI YANG SELAMA INI DIBANGGAKANNYA ITU TERNYATA TIDAK BERARTI APA-APA BAGI KEHIDUPAN ABADINYA. PADA SEBUAH PERISTIWA YANG MENGHANTAM KESADARANNYA, DIA DIPAKSA UNTUK MENGAKUI BAHWA HIDUPNYA GAGAL DAN SIA-SIA. APA YANG DIMILIKINYA, APA YANG DICINTAINYA DAN APA YANG DIHARAPKANNYA BISA MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN DAN KESELAMATAN TERNYATA NOL BESAR. SESEORANG MERASA TERASING, SEPI DAN TERSINGKIR MESKIPUN DI SANA BANYAK SAHABAT DAN KELUARGA YANG MENGHIBURNYA. HATINYA KOSONG, MERANA DAN KETAKUTAN.

Kita berteduh di bawah sebuah dunia benda-benda dan diri jasmani yang sesungguhnya tidak kekal. Yang kekal justeru adalah apa yang selama ini kita anggap sebagai hal yang gaib. Hal yang menakutkan dan hal yang bersifat mitos dan klenik. Kita enggan memasuki wilayah-wilayah tersebut karena kita merasa tidak senang dan nyaman. Padahal, senang dan nyaman yang bisa merasakan adalah jasad, tubuh dan fisik yang nantinya akan mengalami sakit, renta dan sirna ditelan kematian. Jasad kita akan dikubur atau dibakar… Musnah dimakan cacing tanah atau diterbangkan angin.

Tidak ada sesuatu yang abadi kecuali perubahan. Akhirat adalah sebuah zona metafisik dan gaib yang senantiasa berubah sesuai dengan garis kodrat yang diciptakan oleh manusia sendiri. Yang bisa merasakan yang abadi ini adalah RUH kita. Ruh adalah bagian yang paling hakiki, paling esensial, paling substansial, paling sejati pada diri kira. RUH senantiasa bermeditasi dalam keheningan dan berada di sebuah tempat tersuci di dalam diri manusia. Karena tidak pernah bohong, tidak mengalami kematian, senantiasa menyuarakan kebenaran maka RUH disebut dengan GURU SEJATI atau AKU SEJATI.

Meskipun jasad berada di dunia sekarang ini, namun RUH senantiasa berada di dalam genggaman-Nya dan beradanya RUH melampaui ruang dan waktu dunia. Jadi RUH senantiasa dalam kondisi tetap hidup abadi sepanjang masa. Setelah ditiupkannya RUH dan kemudian “menjadi” manusia maka RUH ini tidak pernah mati lagi untuk selama-lamanya. RUH menikmati dunia dan akhirat, mengalami berbagai macam baju kesadaran akal dan hati manusia. RUH tidak mengenal pintar dan bodoh, berilmu maupun tidak berilmu, tidak mengerti cinta dan benci, tidak merasakan susah dan senang. RUH kita senantiasa ADA karena sesungguhnya RUH adalah bagian emanasi dari Dzat Tuhan Yang Maha Abadi.

Kalau kita menggunakan alat Elektro Encepalograph (EEG) untuk mengukur gelombang otak manusia maka kita tetap tidak akan mendapati kesadaran ruh. KESADARAN RUH akan terbangun saat semua aktivitas otak kita berhenti total, yaitu saat kita mengalami KEMATIAN. MATINYA JASAD FISIK DAN OTAK TIDAK BERARTI MATINYA RUH. Kesadaran Ruh(ani) akan terjaga dan bangun secara otomatis saat kita tidak lagi berpikir apa-apa. Saat kita tidak merasakan perasaan apa-apa. Kesadaran Ruh tidak akan bisa dilatih dengan hanya melakukan aktivitas olah raga, olah pikir maupun olah rasa. Kesadaran ruh adalah kesadaran berketuhanan yang bisa diusahakan dengan upaya yang sungguh-sungguh bertentangan dengan apa yang kita pikirkan, apa yang kira rasakan dan apa yang kita harapkan. Sebab ruh tidak berpikir, ruh tidak merasakan apa-apa dan ruh tidak berharap apa-apa.

Energi ruh kita berasal dari mana? Energi ruh kita berasal dari ENERGI TUHAN. Yang tidak pernah akan habis sekian triliun tahun, yang tidak akan pudar meskipun sudah menyinari sekian milyar batin manusia. Energi ruh abadi selama-lamanya karena selalu terpancar dari Dzat-Nya yang Maha Sempurna. Karena sifatnya yang abadi, maka ruh tidak mengenal surga dan neraka. Surga dan neraka adalah Ciptaan Tuhan, sementara RUH adalah bagian dari Dzat Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menempatkan diri-Nya sendiri di dalam tempat surga dan neraka. Sehingga benar bila nanti setelah alam semesta ini digulung, maka Ruh kita akan kembali di dalam Diri-Nya. Surga dan neraka “diciptakan” sendiri oleh manusia, untuk mereka yang masih berkeinginan untuk melanjutkan kehidupannya setelah kehidupan nyata di bumi ini berakhir. Ini wilayah gaib yang tercipta bagi mereka yang BELUM PUAS DENGAN KEHIDUPAN DUNIA ini. Bagi mereka yang sudah puas dan bersyukur diperkenankan Tuhan untuk hidup di dunia ini saja, maka tempat tinggal mereka selanjutnya tidak di surga atau neraka. Mereka akan MENJADI TUHAN sebagaimana AWALNYA DULU SEBELUM SEMUANYA ADA KECUALI DZAT-NYA.

Maka cermatilah apa sebenarnya keinginan kita sekarang? Apa ingin keadilan, kesamaan, kesetaraan dengan yang lain karena merasa bahwa di dunia ini dia merasa diperlakukan secara semena-mena, tidak setara dan sederajat dan masih merasa bahwa kebahagiaan dan kenyamanan patut diperjuangkan. Orang yang masih berkeinginan melanjutkan perjuangan menuntut keadilan, Tuhan akan mengganjarnya dan membalasnya dengan SURGA atau NERAKA. Dia akan mendapatkan hukum sebab dan akibat dari buah niat, perbuatan dan amalnya. Keinginan adalah zona pikiran, perasaan dan hati. Sehingga masih bersifat “JASAD FISIK” BUKAN LAHIR DARI KESADARAN RUH. Coba tanya pada orang-orang yang sudah mati dan kesadaran ruhnya sudah hidup, apa yang diinginkannya? Jawabannya PASTI BUKAN INGIN MASIH SURGA LAGI… RUH PASTI TIDAK INGIN APA-APA LAGI KARENA SUDAH MENYATU DENGAN TUHAN.

Maka nanti di Surga atau neraka adalah tempat bagi DIRI-DIRI MANUSIA YANG MASIH MEMILIKI KEINGINAN-KEINGINAN. Keinginan akan terpuaskan sesaat, namun kemudian akan bosan dan tidak kekal. Sehingga surga dan neraka adalah tempat yang akan mengalami kehancuran dan tidak abadi. Satu-satunya Yang Abadi adalah Dzat Tuhan. Yang lain tidak akan pernah abadi dan akan mengalami penyusutan dan pemudaran sebagaimana hukum keinginan. Lihatlah, bacalah dan hayati maknanya secara mendalam apa yang ada di surga dan neraka menurut Kitab Suci: di surga ada wanita tercantik yang siap ditiduri setiap saat, di surga ada istana megah dan membahagiakan: Maka bisa disimpulkan DI SURGA MASIH ADA KEINGINAN DAN KEINGINAN ADALAH WUJUD FISIK MANUSIA YANG SIFATNYA SEMENTARA.

Bertanyalah kepada Para Nabi dan Rasul sepanjang masa mulai Adam AS, Musa AS, Ibrahim AS, Isa AS hingga Muhammad SAW dulu, apa yang Anda inginkan dalam hidup ini… Masuk Surga dan Hidup Bahagia atau ingin yang lain? Saya berani bertaruh mereka tidak akan menjawab apa-apa. kenapa demikian? Sebab dia tidak akan menggadaikan hidup demi jasadnya untuk memperturutkan keinginannya. Keinginan selalu bersifat FISIK sehingga tidak mungkin para rasul yang suci itu ingin masuk surga atau neraka. Coba tawarkan kepada mereka satu ton emas dan kekuasaan dunia agar mereka meninggalkan keyakinan TAUHID, mereka pasti akan menolaknya mentah-mentah, sebagaimana pernah dikatakan MUHAMMAD SAW: “SEKIRANYA KAU LETAKKAN MATAHARI DI TANGAN KANANKU DAN BULAN DI TANGAN KIRIKU AGAR AKU MENINGGALKAN KEYAKINANKU, MAKA AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA. AKU MEMILIH MATI TERBAKAR HABIS DEMI KEYAKINANKU.

Para nabi dan rasul itu adalah MANUSIA yang berjalan TANPA KEINGINAN sebab KEINGINAN ADALAH PENDERITAAN dan ketidakkekalan. MEREKA berjalan dengan KESADARAN RUH-NYA. Mereka adalah manusia seperti kita juga. Bila mereka bisa, kenapa kita tidak mencoba?

CARA RAHASIA

Bagaimana membangunkan kesadaran ruh? Jawabnya adalah selalu mengingat Tuhan (Dzikir). Dzikir adalah cara rahasia yang mampu menembus kesadaran jasad dan fisik untuk masuk ke ruang KESADARAN RUH. Dzikir adalah tombak yang mampu menembus berbagai hijab/tirai pembungkus jati diri manusia yang palsu. Dzikir itu bukan sekedar mengawal syariat manusia itu agar betul dan bergerak di atas Tauhid kepada Allah SWT semata-mata. Tetapi ia juga bertujuan untuk memaastikan kita agar senantiasa mengingati dan berikhtiar untuk melekatkan diri kita dengan sifat-sifat yang ada kepada Allah.


Dzikir juga penawar untuk mengobati batin, pembersih batin, mensucikan batin sekaligus dan membuka CAHAYA KALBU serta menghancurkan darah kotor di ujung jantung, yang dinamakan ”Istana Setan”. Apabila seluruh batin kita sudah terselimuti dengan Dzat-Nya, maka seluruh batin kita akan cerah dan dapat berfungsi dengan baik seperti malam hari diterangi bulan purnama. Orang yang dzikir mata dan telinga batinnya akan terbuka dengan terang.

Apabila hati sudah disuluhi cahaya-NYA, maka setiap saat kita mengalami makrifat. Proses pemancaran (wujud) cahaya dzikir itu seperti proses pemancaran cahaya matahari yang tertimpa ke atas bulan dan memancarkan cahaya yang nyaman ke bumi. Apabila sampai ke tahap ini, seseorang dapat mengetahui sesuatu dengan mata batinnya yang tidak dapat ditangkap mata, dapat ditangkap oleh telinga. Dia mendengar dan faham segala gerak-gerik alam, hewan, serangga, daun, kayu, ombak, hembusan angin, jin, malaikat. Dirinya dapat mengetahui sesuatu yang terjadi meskipun dia berada di alam tidur. Dia juga tahu apa yang akan terjadi. Pendeknya segala rahasia akan terbaca dengan jelas!

Mereka dapat bertahan lapar, haus dan menahan sakit dan penderitaan-penderitaan fisik yang lain. Tubuh mereka menjadi KEBAL dari duka, sakit dan pedih. Kita sering mendengar para para manusia yang sampai di tahap perjalanan spiritual ini mampu tidak makan bertahun-tahun dan tidak sakit bertahun-tahun. Tuhan tidak sembarangan memaparkan bagaimana kekuatan para Pemuda Ashabul Khafi: tujuh orang pemuda yang semuanya anak raja tidur selama 309 tahun karena amal sucinya. Mereka adalah utusan Tuhan, yang merupakan ahli dzikir. Logika awam, puluhan hari tanpa makan dan minum akan mengakibatkan manusia mati. Tetapi mereka berada dalam gua yang pintunya tertutup rapat dan tanpa memakan apa-apa.

Apakah rahasia mereka dapat bertahan dan hidup begitu lama. Apakah yang mereka makan utk meneruskan hayat hidup mereka? Jawabnya tidak lain dan tidak bukan ialah dzikir. Mereka ingat kepada Allah dan menjadikan dzikir sebagai santapan ruh. Kita hanya akan ingat Tuhan saja, tanpa yang lain, termasuk melupakan penderitaan fisik seperti lapar, haus, sakit, takut atau bimbang. Dengan tidak putus mengingat-Nya maka Dia juga tidak putus mengingat kita. ”JIKA ENGKAU INGAT AKU, AKU INGAT ENGKAU.”….”DAN HANYA PADA TUHANLAH HENDAKNYA KAMU BERHARAP..”

Kelebihan dan keistimewaan memang milik kita semua. Milik mereka yang tidak lagi punya KEINGINAN FISIK atau JASAD. Yang terjadi kepada para Nabi, Rasul dan Manusia Suci lain membuktikan walaupun dibakar api, IBRAHIM AS tidak hancur. Ia kebal karena dia selalu mengingat-NYA. NUH AS juga aman meski tsunami besar menghanyutkan isi bumi saat itu. MUSA AS juga selamat melintasi laut dari kejaran Fir’aun. ”Kekeramatan atau kemuliaan itu datang tanpa disadari. Karamah seseorang itu sangat biasa… dan hanya orang lain yang berada di luar kehidupannya yang menganggapnya demikian.”

TALI SIMPUL

HIDUPKAN KESADARAN RUH DALAM DIRI KITA. RUH ADALAH DIRI SEJATI, AKU SEJATI, INGSUN SEJATI, GURU SEJATI KITA. RUH ADALAH SEMAR YANG HAKEKATNYA TETAP HIDUP. MENGHAYATI HAKEKAT HIDUP ADALAH MENGHAYATI HIDUPNYA RUH DALAM DIRI MANUSIA.

Ajaran Jawa yang membahas adanya RUH sebagai limpahan dan pancaran emanasi Dzat Tuhan, ada dalam aksara makna HANACARAKA:

HA : HANANIRA SEJATINING WAHANANING HYANG.
NA : NADYAN NORA KASAT MATA PASTI ANA.
CA : CAREMING HYANG YEKTI TAN CETHA WINECA.
RA : RASAKENA RAKETE LAN ANGGANIRA.
KA : KAWRUHANA JIWANIRA KONGSI KURANG WEWEKA.
DA : DADI SASAR YEN SIRA NORA WASPADA.
TA : TAMATNA PRABANING HYANG SUNG SASMITA.
SA : SASMITANE KANG KONGSI BISA KARASA.
WA : WASPADAKNA WEWADI KANG SIRA GAWA.
LA : LALEKNA YEN SIRA TUMEKENG LALIS.
PA : PATI SASAR TAN WUN MANGGYA PAPA.
DHA : DHASAR BEDA KANG WUS KALIS ING GODHA.
JA : JANGKANE MUNG JENAK JENJEMING JIWARAGA.
YA : YATNANA LIYEP LUYUTING PRALAYA.
NYA : NYATA SONYA NYENYET LABETING KADONYAN.
MA : MADYENG NGALAM PANGRANTUNAN AYWA SAMAR.
GA : GAYUHANING TANNA LIYAN JUNG SARWA ARGA.
BA : BALI MURBA MISESA ING NJERO NJABA.
THA : THAKULANE WIDADARJA TEBAH NISTHA.
NGA : NGARAH ING REH MARDI-MARDININGRAT

RUH ADALAH GURU SEJATI YANG SETIA MEMBERIKAN ‘PIWULANG SEJATINING URIP’.

Sumber : wongalus,2009

Senin, 30 November 2009

METAFISIKA KESATUAN RUH

Bagian paling sejati dari manusia adalah ruh. Keabadian ruh adalah paling nyata terlihat pada mereka yang telah menggunakan kesadaran makrifatnya dengan lurus. Bismillah…

Ruh tidak melekat pada tubuh manusia. Meskipun dia dikatakan berada “di dalam” diri manusia, namun ia tidak sungguh-sungguh dibatasi oleh tubuh yang berada di dalam ruang dan waktu. Ruh adalah sebuah bentuk yang tanpa waktu dan berada di luar waktu, yang berlaku kekal dan abadi sejak sebelum penciptaan alam. Untuk dikenali, ruh kemudian “masuk” ke dalam tubuh/jasad yang ada di dalam ruang dan waktu.

Bisa dikatakan ruh menjelma menjadi manusia yang berjasad dan berjiwa. Bentuk dan rupa ruh hingga kini tidak diketahui. Apakah bentuknya seperti manusia namun seperti bayangan belaka ataukah seperti asap, tidak diketahui. Kita hanya bisa mengatakan bahwa ruh adalah bagian manusia yang paling halus. Kenapa tidak diketahui? Itu sebab kita tidak pernah melihat, mendengar, meraba ruh sebelumnya. Sehingga bentuknya tidak ada di dalam gudang memori manusia. Pada tulisan terdahulu yang berjudul HIDUP YANG SEMENTARA telah sedikit diulas bahwa pengetahuan kia tentang ruh itu bukan berasal dari pengamatan/pengalaman.

Pengetahuan tentang ruh sudah diinstal secara otomatis ke dalam diri manusia. Manusia tinggal membuka program dan kemudian mengaplikasikannya. Alat untuk mengetahui tentang ruh adalah akal budi yang merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Meskipun mendiskusikan soal ruh adalah sebuah upaya yang sia-sia, namun ruh juga tidak sepenuhnya menutup diri dari pengetahuan akal. Adalah watak dasar manusia untuk ingin tahu tentang segala hal, termasuk soal ruh ini. Ruh kemudian diletakkan sebagai barang atau benda yang berada di “luar” diri dan kemudian diteliti secara obyektif.

Salah satu cara untuk mendekati keberadaan ruh ini adalah menganalisa mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE yang kemudian memberikan banyak pengetahuan tentang ruh. Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup saat tubuh jasad fisik ini tidak berfungsi. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.

Bagaimana sejarah awal “kesatuan” antara ruh manusia dengan ruh Tuhan? Sebenarnya secara logika, pertanyaan ini pun juga mengandung kesalahan. Kenapa juga kita selalu memisahkan antara dua ruh yang sesungguhnya cuma satu? Inilah akibatnya bila kita menggunakan akal untuk menakar sebuah perkara. Adalah watak akal untuk memilah-milah/ menganalisa/memotong-motong obyek sebagaimana halnya sebuah benda atau barang saja. Padahal obyek kajian kita kali ini adalah ruh yang bersifat metafisis! Ah, sebelum pembicaraan kita mengenai ruh ini menjadi meaningless/tidak bermakna tidak salah kita teruskan saja membaca tanpa apriori terlebih dulu. Jangan dulu ditanya benar atau salah pendapat saya kali ini. Yang jelas, ayo dibaca saja tanpa prasangka dulu baru kemudian dikritik. Monggo, lha wong ini cuma pendapat/opini kok.

Semua hal terjadi karena sebuah proses. Bumi, matahari, bulan, galaksi tercipta karena proses ledakan besar. Begitu pula dengan ruh. Ruh juga mengalami proses penciptaan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Syahdan diungkap dalam “kitab teles” kasunyatan, awalnya hanya ada satu dzat saja yang Ada. Dzat itu tidak punya nama sebab dia tidak dikenal. Lha siapa yang mengenal kalau hanya satu dzat saja? Bukankah nama-nama tersebut ada karena ada dua atau lebih sesuatu sehingga perlu diberi nama? Coba kalau hanya satu, maka tidak perlu dberi nama. Lha siapa juga yang memberi nama kalau hanya ada satu diri di “alam awang uwung?” Boleh dikatakan saat itu hanya ada satu ruh saja. Ruh yang satu ini memiliki energi kreatif yang berlimpah. Dia kemudian ingin “dikenal”.

Hmm… kata “dikenal” ini sebenarnya tidak tepat. Kata ini sama sekali tidak mewakili apa yang sebenarnya “diinginkan”-Nya. Apalagi kata “dikenal” sudah mengalami pemiskinan makna seperti abad sekarang. Dia bukanlah selebritis sebagaimana yang kita kenal di dunia sinetron. Namun, apa ada kata lain yang mewakili ya? Yang jelas, Dia Yang Satu ini kemudian berkata “Kun Fayakun”… “terjadilah”… kata ini mengandung maksud bahwa Yang Satu ini ingin menjadi Yang Banyak. Yang Satu ingin mengejawantah menjadi Yang Banyak. Yang banyak ini kemudian menjadi partikel-partikel mulai yang terkecil yang tingkat kesadarannya sederhana hingga yang paling sempurna tingkat kesadarannya.

Yang Satu oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kesendiriannya. Ruh Yang Satu mulai berpindah dari situasi “berada di luar dirinya” ke dalam situasi “berada bagi dirinya.” Sebab “berada bagi dirinya” bisa terjadi karena ada kesadaran-kesadaran Yang lain dari Yang Satu. Perlu diingat bahwa yang terjadi saat itu adalah Ruh Yang Satu kemudian membebaskan dirinya untuk diinterpretasi oleh Yang Lain Yang Bukan Diri-Nya. Proses ini ibarat manusia menciptakan komputer yang cerdas yang bisa melakukan perlawanan termasuk pengakuan bahwa komputer itu bikinan manusia. Setelah proses Kun Fayakun tersebut: Kini sudah ada dua ruh. Ruh Yang Satu dan Ruh Yang Lain.

Kehendak Ruh Yang Satu kemudian memasrahkan kepada Ruh Yang Lain untuk berkarya. Yang terjadi dalam peradaban manusia saat itu adalah lahirnya kesadaran bahwa dia berbeda dengan alam sekitarnya. Dia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan kosmos-nya alam. Dia beranggapan manusia harus memiliki kehendak bebas sendiri dan kesadaran inilah yang akhirnya membuat dia merasa memiliki otonomi diri yang tidak ada korelasinya dengan Tuhan. Kehendak rasional manusia kemudian mengalami subyektivasi. Manusia menjadi hipokrit, dipenuhi selubung nafsu dan kenistaan. Nilai-nilai diputarbalikkan sedemikian rupa karena semakin tidak menyadari dunungnya. Eksistensinya menjadi absurd dan konyol. Itu karena dia tidak memahami bahwa awal muasal semua yang bereksistensi ini sejatinya hanya Yang Satu.

Mulailah manusia menata peradaban berdasarkan bentuk-bentuk hidup dengan prinsip subyektivitas. Kenapa subyektif? Sebab dia tidak melibatkan Yang Satu dlam proses penciptaan selanjutnya….. Bentuk dan nafsu-nafsu manusiawi dilembagakan secara formal. Diciptakan kebiasaan, diciptakan adat istiadat, diciptakan peradaban, diciptakan filsafat hidup dan ilmu pengetahuan, diciptakan tata kenegaraan, diciptakan sistem nilai-nilai yang dijadikan perangkap eksistensi manusia. Merasa hidup dalam sosialitas yang belakangan diketahui sangat mengerikan akibat ulahnya sendiri itu, manusia kemudian menciptakan agama! Dengan agama, manusia sebenarnya sedang membuat dogma dan mitos-mitos baru.

Siapa bilang agama diciptakan Tuhan untuk manusia? Manusia sendirilah yang menciptakan agama untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak beragama. Tuhan tidak butuh agama. Jangan libatkan urusan Tuhan untuk mengungkung kebodohannya. Tuhan terlalu suci dari dosa-dosa manusia yang terbiasa merekayasa kebutuhan-kebutuhan dirinya dan merasa seolah-olah paling tahu apa yang dia butuhkan. Manusia memang sudah sedemikian egois. Astaghfirullah!!!

Inilah tahap yang terjadi saat ini. Manusia sengaja melemparkan dirinya, menjauh sejauh jauhnya dari kesatuan dengan Ruh Yang Satu. Diri manusia yang menjelma dalam ego perorangan memasuki kawasan yang lebih rumit lagi. Ruhnya terpendam di dasar diri dan tidak mampu untuk bergerak. Kecuali apabila nanti jasad manusia sudah dinyatakan mati, maka nyawa ruh akan kembali menyatu dengan Yang Satu. Sebelum mati, diri manusia membuat suatu tata tertib yang lebih rumit lagi. Manusia harus berkeluarga, manusia harus bermasyarakat, manusia harus bernegara, manusia harus memiliki pandangan hidup yang benar dan lurus, manusia hidupnya harus melaksanakan rencana-rencana A, B, C, D, dan seterusnya….

“Keharusan-keharusan” itu secara sengaja kemudian menciptakan peradaban dan sejarah dunia. Sejarah dunia yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, egoisme dan pemuasan nafsu jasad saja. Bila proses penghancuran jagad cilik dan jagad gede oleh si jagad cilik ini terus berlangsung maka jangan harap ruh manusia akan mampu menemukan kesatuan dengan ruh Yang Satu. Dibutuhkan sebuah proses penghancuran kesadaran secara massif alias proses laku utama: “Mati dalam Hidup” sehingga manusia menemukan kembali jati dirinya. Inilah jalan makrifat tertinggi yang harusnya ditempuh oleh kita semua: KAWULO DENGAN GUSTI SEBENARNYA MANUNGGAL DAN JUMBUH. SEBAB SEMUANYA ASALNYA DARI YANG SATU DAN KESATUAN ITU KINI SUDAH DIHANCURKAN DAN DIRUSAK OLEH MANUSIA.

Dalam kitab suci kata “ruh” itu selalu dinyatakan dalam bentuk tunggal, bukan jamak. Juga dinyatakan sebagai ruh-Nya. Tidak ada satupun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ruh itu diciptakan oleh Tuhan. Sebab Ruh-Nya hanya satu yang kemudian nitis kepada manusia agar manusia dapat membangkitkan kesadaran dirinya sendiri bahwa dia adalah citra-Nya. “Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Ini salah satu ayat dalam kitab suci yang memaparkan bahwa Yang Satu (Tuhan) mentamsilkan “tiupan” ruh ke dalam diri manusia. Nah, karena Tuhan tidak bermulut, maka kita perlu memahami kata “tiupan” itu sebagai limpahan, pancaran, emanasi ruh-Nya. Itulah sebabnya semua mahluk tidak terkecuali jin dan malaikat dulu diminta untuk sujud kepada manusia. Kenapa? Sebab manusia adalah limpahan Ruh Tuhan. Ia selalu suci, tidak tersentuh ego karena dipancarkan dari “pribadi” yang menjadi manifestasi yang menyejarah di bumi.

Jasmani manusia kini jumlahnya bermilyar-milyar yang terbentang dari barat ke timur, namun berapa jumlah manusia yang menyadari bahwa dia sejatinya adalah diri ruhani yang merupakan pancarah Ruh-Nya? Teramat sedikit dan mungkin bisa dihitung dengan jari dan yang kita kenal hanyalah para Rasul, nabi, wali, avatar, atau apapun namanya yang berperan untuk kembali menuntun umat manusia agar menyadari perannya sebagai pribadi manifestasi Ilahi. Pribadi yang tidak menyadari perannya sebagai manifestasi Ilahi berakibat fatal.

Dunia akan kiamat dan yang mampu menyelamatkan hanya manusia yang kembali menjadi pribadi yang terkendali oleh ruh. Jika jiwa/nafs merupakan substansi yang menyebabkan makhluk menjadi hidup dan menjalankan kodratnya maka ruh merupakan substansi yang mampu mewujudkan iradat manusia. Bila manusia hidup memiliki kodrat dan iradat, maka iradat manusia hanya bisa bekerja dengan benar bila dibimbing oleh ruh. Iradat yang benar bukan hasil dorongan dari luar yang palsu, tapi tumbuh dari dasar pribadinya.

Ingatlah bahwa manusia sudah dibekali dengan kesempurnaan penciptaan. Dibekali dengan sarana dan prasarana, baik fisik dan metafisik untuk manunggal kembali dengan iradat-Nya. Bukankah KAWULO SESUNGGUHNYA ADALH GUSTI???? “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya. Dia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan perabaan. Tapi sedikit sekali kamu yang bisa bersyukur!”

Terakhir, memohon maaf bila interpretasi tentang ruh ini ternyata salah dan melenceng dari kebenaran. Itu semata-mata proses yang saya lakoni masih sangat terbatas dan semoga akan terus berproses hingga akhir hayat. Sehingga tercapai benar-benar pengetahuan makrifatullah tentang METAFISIKA RUH YANG SEJATINYA HANYA SATU DAN TIDAK ADA YANG LAIN. “Timur dan Barat adalah kepunyaan Allah. Maka kemana saja menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Tahu”

Sumber : (Wong Alus)

Kamis, 29 Oktober 2009

PETA MASA DEPAN DUNIA TAHUN 2020

Tanggapan untuk tulisan Peter Rosler Garcia
Oleh: M. Hafidz Abdurrahman

Laporan yang dilansir oleh National Intellegence Council (NIC), tentang Mapping the Global Future (Pemetaan Masa Depan Dunia), selain untuk memberikan gambaran secara umum tentang tantangan yang akan dihadapi oleh Amerika, juga sebagai langkah antisipatif yang hendak dilakukan dalam rangka mewujudkan peta masa depan dunia yang mereka kehendaki. Cina, sebagai kekuatan baru dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta keteguhannya berpegang kepada ideologi Sosialis, ditopang dengan jumlah demografis yang besar dan wilayah geografis yang luas, benar-benar menjadi ancaman real bagi Amerika, dan negara-negara Barat-Kapitalis lainnya. Di sisi lain, India disebut-disebut sebagai negara berikutnya, dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang signifikan, serta jumlah penduduk yang besar akan berpotensi menjadi kekuatan baru di masa depan.

Yang menarik adalah adanya skenario lain, yaitu munculnya Khilafah baru pada tahun 2020, yang juga memprediksi Indonesia sebagai salah satu bagian dari kekhilafahan baru tersebut. Dalam konteks yang terakhir inilah, Peter Rosler Garcia merekomendasikan agar Indonesia menjadi negara besar, maka Indonesia harus tetap bersikap moderat, tidak berpikiran sempit, menstabilkan demokrasi dan HAM. Itu beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari pandangan dan laporan di atas.

Cina sebagai Ancaman Real Amerika

Diakui atau tidak, sampai saat ini Cina masih merupakan satu-satunya negara Sosialis yang terbesar, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet. Setelah reformasi Deng Xiopeng, Cina memang telah menganut ekonomi pasar, artinya dalam bidang ekonomi Cina telah melakukan reformasi, atau lebih tepatnya adaptasi Sosialisme dengan Kapitalisme, meski secara politik Cina tetap tidak berubah. Pendekatan yang dilakukan oleh Cina ini persis seperti yang pernah dilakukan oleh Amerika dekade 50-an abad ke-20 M, saat sejumlah penguasa pro-Amerika mengumumkan apa yang ketika itu dikenal dengan istilah State Socialism (Sosialisme Negara). Sebut saja, Gamal Abdul Naser (Mesir), dan Ahmed Ben Bellah (Aljazaer). Intinya, Kapitalisme dibalut dengan ide-ide Sosialisme. Nah, justru dengan adaptasi seperti ini, Cina telah menjelma menjadi kekuatan besar dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

Upaya Amerika untuk memukul Cina memang terus dilakukan, tetapi nyaris tidak berhasil. Perang Vietnam yang dilakukan oleh Amerika pada zaman Nixon, dengan maksud untuk memancing keterlibatan Cina dalam membela Vietnam, sehingga kelak bisa dijadikan sebagai justifikasi bagi Amerika untuk menggebuk Cina ramai-ramai ternyata telah dibaca oleh Mao Che Thung. Setelah itu, melalui penguasa Kamboja yang pro-Amerika, Norodom Sihanok, Amerika pun melakukan hal yang sama, tetapi gagal menyeret Cina. Peperangan itu pun akhirnya berhenti setelah Mao meninggal, dan diganti penguasa berikutnya. Ketika itu, Cina dianggap sebagai ancaman setelah melihat ambisi Mao untuk melakukan ekspansi ke luar. Berbeda dengan penggantinya. Maka, praktis tidak ada konflik besar yang menyeret Cina, seperti pada zaman Mao. Meski tidak berarti ancaman Cina telah pudar.

Maka, Amerika terus memprovokasi Taiwan agar menjadi duri di dalam daging bagi Cina. Secara politis, Amerika memang mengakui kebijakan One China, satu Cina, tetapi kenyataannya upaya-upaya Amerika secara terbuka melakukan kunjungan ke Taiwan, dan menerima kunjungan penguasa Taiwan di Amerika jelas membuktikan hal itu. Ditambah lagi kunjungan Clinton yang terakhir ke Taiwan, beberapa hari yang lalu. Semuanya itu, tidak lain adalah agar konflik Cina-Taiwan terus bergolak. Dengan begitu, Cina akan terus disibukkan dengan persoalan domestiknya, dan suatu ketika saat keinginan rakyat Taiwan bulat untuk memisahkan diri dari Cina, yang didukung dengan momentum yang tepat, maka semuanya itu akan menjadi justifikasi bagi Amerika untuk menyerang Cina. Cina juga begitu, terus-menerus meningkatkan kemampuan militernya, termasuk persenjataan nuklirnya guna menghadapi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi, khususnya dalam menghadapi ancaman Amerika.

Krisis nuklir Korea Utara juga sama, hanya menjadi justifikasi bagi Amerika untuk membidik Cina. Demikian juga dengan isu jaringan al-Qaedah di Asia Tenggara, atau Jamaah Islamiah, dan terakhir keinginan kuat Amerika untuk menjadikan perairan di Selat Malaka sebagai zona bersama, dimana Amerika menjadi salah satu pengawasnya adalah upaya-upaya yang kelak bisa dimanfaatkan untuk ke sana. Konflik India-Pakistan, baik menyangkut isu perbatasan termasuk Kashmir, maupun isu nuklir, juga telah dijadikan justifikasi oleh Amerika untuk kepentingan yang sama. Ketika Partai Baratha Janathan, pimpinan Vajpayee, yang pro-Amerika menang pada akhir dekade 90-an, dan berhasil menduduki kursi pemerintahan, didukung dengan pemerintah Pakistan yang secara tradisional memang pro-Amerika, maka Amerika berkeinginan untuk menjadikan kedua negara ini sebagai garda terdepan untuk menghadapi Cina, yang ditopang dengan jumlah populasi dan persenjataan nuklirnya yang hampir menyamai Cina. Kalaupun tidak, setidak-tidaknya bisa menjadi justifikasi bagi masuknya Amerika di kawasan tersebut, yang kelak bisa memudahkan langkahnya untuk menghabisi Cina.

Pendudukan Amerika terhadap Afganistan juga telah dibaca Cina, sebagai situasi yang bisa mengancam keamanannya. Maka, Cina pun segera mengirim pasukan ke kawasan tersebut. Intinya, Cina memang merupakan ancaman real bagi Amerika. Ini semakin kelihatan, ketika Uni Eropa (Metro TV, 3/3/05) mencabut embargonya terhadap Cina, maka kontan saja anggota Konggres Amerika mengancam akan mengembargo Uni Eropa.

Khilafah sebagai Ancaman Potensial

Nah, setelah era Perang Dingin, kutub Kapitalis termasuk di dalam Amerika dan Uni Eropa, memang kehilangan musuh real (the real enemy). Selain Cina, Korea Utara, dan Kuba, barangkali the real enemy tadi sulit ditemukan. Di sisi lain, bukan berarti mereka tidak menyadari adanya musuh potensial. Mereka sadar, hanya saja kepentingan mereka tidak berbeda. Sebut saja dunia Islam, termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Bagi Amerika dan Uni Eropa khususnya, termasuk di dalamnya Inggris, dunia Islam adalah ancaman potensial. Mengapa? Karena Islamnya. Sejak runtuhnya Khilafah, 3 Maret 1924 sampai saat ini, dunia Islam memang masih tetap terkoyak dan belum bangkit menjadi kekuatan baru. Tetapi, kesadaran itu mulai tumbuh dan terus membesar, yang terlihat dari semakin semaraknya tuntutan untuk mengembalikan syariah dan Khilafah di hampir 30 negara.

Dalam menghadapi ancaman potensial inilah, Amerika terus berusaha untuk melakukan berbagai manuver politik, termasuk di antaranya menghadirkan jumlah pasukan yang sangat besar di Timur Tengah, tidak kurang dari 148 ribu personil di Irak dan Qatar, belum lagi di Saudi dan sekitarnya. Pada saat yang sama, terus menyulut konflik Israel-Palestina, yang terakhir Suriah-Lebanon. Semuanya itu tentu dengan maksud untuk menyibukkan kaum Muslim dengan persoalan domestik mereka. Ini strategi Amerika. Bahkan, dengan tegas Donald Rumsfeld pernah menyatakan, bahwa pendudukan Amerika di Irak bukan untuk menggulingkan Saddan Hussen semata, tetapi untuk mengembalikan demokrasi di Irak dan membendung kembalinya Khilafah. Karena itu, Amerika sejak awal tegas-tegas menolak pemberlakukan Islam baik sebagai asas maupun hukum negara di sana, meski mayoritas rakyatnya menghendaki hal itu.

Sekalipun kondisi ini, di satu sisi bisa menguras energi Amerika yang sangat besar. Inilah yang disadari oleh Inggris. Karena itu, meski sama-sama melakukan pendudukan di Irak, Inggris mempunyai kepentingan yang berbeda. Inggris berkeinginan untuk menguras energi Amerika, di satu sisi. Di sisi lain, Inggris ingin menggali kuburan Amerika di Irak, agar kekuatan Amerika semakin melemah, didukung dengan kampanye negatif terhadap Amerika yang memicu sentimen anti-Amerika di kawasan tersebut. Sementara itu, dengan sikapnya anti pendudukan Amerika di Irak, Uni Eropa, khususnya Perancis, bukan berarti tidak setuju dengan tindakan Amerika, atau tidak mempunyai kepentingan terhadap Timur Tengah. Yang diinginkan oleh Uni Eropa adalah, bahwa setelah posisi politiknya di dunia ketiga, khususnya dunia Islam, Uni Eropa lebih memilih sikap yang berlawanan dengan Amerika guna menarik simpati dunia Islam. Jika berhasil, maka sentimen anti-Amerika itu akan membuahkan perlawanan, yang pada akhirnya dunia Islam tidak lagi lari kepada Amerika tetapi ke Uni Eropa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Uni Eropa terhadap Cina. Dalam kasus Cina, Uni Eropa ingin mengambil keuntungan ekonomi dan politik dari Cina dalam kasus pencabutan embargonya terhadap Cina.

Indonesia, dan Dunia Islam

Selama dunia Islam dan Indonesia khususnya tetap berpegang pada akar keislamannya, karena mayoritas penduduknya adalah Muslim, maka selama itu tetap akan menjadi ancaman potensial bagi Amerika dan negara-negara Barat yang lainnya. Ancaman potensial itu akan menjadi ancaman real, jika dunia secara keseluruhan bersatu dan menjelma menjadi kekuatan baru, yaitu ketika mereka berada di bawah satu payung negara Khilafah, sebagaimana Uni Eropa bagi Amerika saat ini. Mahatir Muhammad, dalam banyak kesempatan, baik ketika masih menjabat sebagai perdana menteri maupun setelah lengser, sering menyatakan keprihatinannya atas kondisi ummat Islam dan dunia Islam saat ini. Intinya, Mahatir mendambakan persatuan ummat Islam, agar ummat ini menjadi kuat, meski barangkali Mahatir belum mempunyai gambaran yang real tentang persatuan seperti apa yang bisa mengubah potensi ummat Islam ini menjadi kekuatan raksasa. Artinya, kesadaran itu sudah ada, tinggal formatnya seperti apa? Dan ternyata jawabannya jelas ada pada Khilafah.

Karena hanya Khilafahlah yang bisa menyatukan seluruh dunia Islam. Sebab, Khilafah bukan negara bangsa, sehingga seluruh bangsa Muslim yang ada saat ini bisa meleburkan diri di dalamnya. Khilafah juga bukan negara mazhab, sehingga seluruh mazhab yang dianut kaum Muslim dan bisa diterima oleh Islam, bisa dipersatukan di bawah naungan Khilafah. Khilafah juga bukan negara federasi, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, atau Persemakmuran Inggeris, tetapi Khilafah adalah negara kesatuan, dengan satu kepala negara, yang dibantu oleh para wali (gubenur) di masing-masing wilayahnya, dengan satu pasukan, dan satu kesatuan ekonomi. Maka, tidak dapat disangkal, bahwa Khilafah adalah satu-satunya negara adidaya potensial yang benar-benar akan menjadi ancaman bagi negara imperialis, seperti Amerika dan Uni Eropa. Sebab, jelas sekali daerah koloni mereka di dunia ketiga, khususnya dunia Islam akan hilang dari genggaman mereka. Akibatnya, politik dan ekonomi mereka akan terpuruk, dan eksistensi mereka di pentas percaturan dunia hanya tinggal sejarah. Itulah mengapa Khilafah menjadi momok yang begitu menakutkan bagi mereka?

Maka, setelah sekian lama, keinginan untuk mengembalikan Khilafah itu pun menggema di mana-mana, bukan hanya dari dunia Islam tetapi dari jantung peradaban mereka sendiri, di Inggeris, Amerika dan negara-negara Uni Eropa, kini persoalannya kembali kepada kita: memusuhi, mendukung atau bersikap wait and see. Maka, pilihan bagi para penguasa kaum Muslim yang ada di dunia Islam saat ini juga tidak lepas dari tiga pilihan di atas:

Pertama, memusuhi perjuangan penegakan syariah dan Khilafah, sebagaimana yang dilakukan oleh sejumlah rezim di dunia Islam, seperti Uzbekistan, Kyrqistan, Suriah, Jordania, Saudi dan sebagainya, yang pada akhirnya kebijakan rezim-rezim tersebut tidak bisa mengubah apa-apa, selain menambah daftar kejahatan mereka, yang kelak akan diperhitungkan ketika Khilafah telah berdiri.

Kedua, mendukung perjuangan syariah dan Khilafah, meski kebijakan seperti ini tentu akan menyulitkan posisi mereka di hadapan negara-negara imperialis, khususnya Amerika dan sekutunya. Tetapi, ke depan mereka akan menjadi bagian dari sejarah kekuasaan Khilafah yang insya Allah akan berdiri dalam waktu dekat. Bahkan, sangat mungkin mereka tetap akan menjadi penguasa di negeri-negeri mereka.

Ketiga, melihat dan menunggu; tidak mendukung dan menolak. Barangkali sikap inilah yang lebih aman dalam rangka meminimalisir resiko, baik terhadap negara-negara imperialis yang masih dominan saat ini, maupun terhadap Khilafah kelak.

Bagi Indonesia, sebagai negeri Muslim dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, tentu akan semakin kokoh eksistensinya, baik secara ekonomi, politik maupun militer, jika bersatu dengan negeri kaum Muslim yang lain dalam satu wadah, yang disatukan bukan oleh kepentingan, tetapi oleh akidah dan pandangan hidup yang sama. Lebih dari itu, Indonesia benar-benar akan merdeka dari segala bentuk intervensi asing, khususnya negara-negara imperialis. Sementara kaum minoritas tetap mendapatkan hak-haknya untuk hidup aman dan tenteram, bebas menjalankan agamanya. Mungkinkah? Mengapa tidak, maka waktulah yang akan membuktikannya. Insya Allah.

Sumber : http://www.Hizbut-Tahrir.or.id

Rabu, 28 Oktober 2009

.: AMAL PEDULI UMAT :.

"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu...." [Qs. al-Anfal (8):25]

Sebuah amal mulia, tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang yang mulia, yang dengan amal itulah Alloh memuliakan para nabi dan rasul-Nyn serta orang-orang yang mewarisi jejak langkah mereka dengan sebaik-baiknya. Siapapun yang mengerjakan amal tersebut, maka ia akan menyandang kemuliaan, sebuah kemuliaan yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi seluruh alam. Akan tetapi, semulia apapun orang tersebut, apabila melalaikan amal ini, niscaya ia akan jatuh bersama orang-orang yang hina.

Amal Ma’ruf wa nahi munkar,

itulah amal mulia tersebut. Sebuah kalimat, ungkapan dan istilah yangringan di lisan, namun berat untuk diemban.

Keshalihan kadangkala akan melenakan diri seseorang, sehingga ia merasa cukup dan aman dengannya. la tidak terlalu peduli dengan kondisi umat yang ada, apalagi untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi umat.

la puas hanya dengan duduk-duduk di halaqah-halaqah pengajian di pojok masjid. Seolah-olah ia telah melakukan hal yang sangat besar, padahal manusia di sekitarnya kehausan akan kesejukan Islam dan iman, hanya saja mereka tidak menyadarinya.

Padahal keshalihan tidaklah cukup untuk merubah kondisi yang ada di sekitarnya. Namun, setelah seseorang mampu menshalihkan dirinya sendiri, maka dibutuhkan kesadaran dan kepedulian sosial yang tinggi, yang dengannya mampu menumbuhkan kepekaan
seseorang terhadap apa yang terjadi di sekitar diri dan lingkungannya.

Tidak sedikit pula orang yang salah sangka bahwa iatidak akan "pernah" melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar, karena menganggap dirinya belum "benar-benir" shalih. Sebuah sangkaan yang dibuat-buat, dengan dalih:

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri ...." [QS. al-Baqarah (2): 44]

Larangan tersebut bukan "mencegah" seseorang untuk mengajak orang lain berbuat baik, tetapi larangan bagi yang memadukan keduanya, Yaitu menyuruh kebaikan kepada orang lain namun ia sendiri tidak mengerjakannya.

Padahal ketika kita mengaku mengikuti jejak kehidupan dan akhlak Rasululloh, maka di sana akan ditemukan kesempurnaan akhlak yang melekat pada diri Rasullullah.


Bukankah Rasululloh adalah orang yang paling peduli terhadap umatnya?
Hingga ketika malaikat maut datang pun ia tetap
mengingat umatnya?


Lalu,


tidak malukah kita ?! Jika kita mengaku mengikuti beliau ,


tapi justru melalaikan amal tersebut,


yaitu amal peduli umat ?




Sumber


Edisi 12 -
Rajab 1427 H/ Agustus 2006 M

Majalah As Silmi





Artikel Terkait :

Sudahkah Kita mencintai Rasullulloh ?